Rabu, 09 Oktober 2013

Memberi Dengan Kasih



Manusia adalah pengelola. Segala sesuatu yang kita miliki sesungguhnya berasal dari Tuhan, meskipun kita bekerja untuk mendapatkannya. Oleh karena itu, marilah kita menyadari bahwa apa yang Tuhan percayakan kepada kita bukanlah untuk kita nikmati sendiri, melainkan juga untuk dibagikan kepada orang lain. Tuhan meminta kita untuk menjadi saluran kasih-Nya melalui pemberian kita. Maka dari itu, marilah kita menyediakan diri dengan penuh kerelaan dan sukacita dalam memberi, baik dalam pemberian secara materi maupun secara psikis.

SIKAP DALAM MEMBERI


Yesus Kristus adalah kasih. Dia adalah Allah yang Maha-murah dan suka memberi. Sebagai murid Yesus Kristus, orang Kristen sudah sewajarnya menjadi orang yang suka memberi. Dalam hal ini, pemberian tidak hanya terbatas pada bentuk materi, namun juga dalam bentuk-bentuk yang lain seperti Perhatian, Kasih, dan Penguatan.

Dalam hal memberi, kita perlu mengingat hal-hal berikut ini:

1.     Memberi adalah berkat bagi yang memberi dan yang menerima. Ketika kita dapat memberikan sesuatu kepada orang lain, itu berarti kita beroleh kasih karunia. Hal ini dinyatakan Paulus dalam 2 Korintus 8:4. Kita perlu belajar dari orang-orang Makedonia. Mereka "sangat miskin", namun mereka mau memberi dan menganggap kesempatan memberi sebagai "kasih karunia".

2.      Memberi memberikan peluang bagi kita untuk mencerminkan watak Allah. Allah adalah Pemberi (Yohanes 3:16; Roma 8:32; Filipi 2:5-8), itu sudah menjadi sifat Allah. Dan, sebagai orang Kristen, kita hendaknya berusaha meneladani Dia.

3.     Memberi dapat menumbuhkan persekutuan dan persaudaraan. Apabila kita bertindak sebagai mitra yang ikut ambil bagian dalam segi keuangan dengan murah hati dan rendah hati, maka kasih pun diperkuat. "Kasih karunia yang tak terkatakan" (2 Korintus 9:14-15) itulah yang mengikat kasih antara pemberi dan penerima.

4.    Memberi dapat menghasilkan kedewasaan. Oleh karena itu, hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini (2 Korintus 8:1,7; 2 Korintus 9:10).

5.     Memberi memungkinkan Allah untuk dapat memberi kepada si pemberi. Perjanjian Baru menekankan upah rohani dari hal memberi walaupun upah secara materi juga diberikan (Matius 6:19-21). Apa yang kita berikan menentukan apa yang akan kita terima (Lukas 6:38). Ketika kita memberi segala sesuatu dengan kasih, seperti kita melakukannya untuk Tuhan, kita akan semakin mengakui bahwa Tuhan adalah Allah yang memelihara (Filipi 4:19). Marilah kita menyimpan harta di surga dengan berbuat kebajikan dalam hal memberi (Filipi 4:17). Allah tidak berjanji akan memberikan semua hal yang kita minta. Akan tetapi, Ia akan memenuhi setiap kebutuhan kita, bukan setiap keinginan kita yang mementingkan diri sendiri. Selain itu, mari kita memberi karena dorongan kasih, bukan karena keinginan untuk mendapat imbalan. Tuhan Yesus menyuruh agar kita memberi "dengan tidak mengharapkan balasan" (Lukas 6:35). Dalam Perjanjian Lama, Allah berjanji untuk memberkati orang Israel secara materi karena kerelaan mereka untuk memberi dengan murah hati. Jadi, dalam hal ini yang terpenting adalah memberi dengan kasih, dengan kerelaan hati. Jika kita memberi supaya dapat menerima imbalan duniawi, kita telah memalsukan upah surgawi kita (Matius 6:2).

6.      Memberi dapat mendatangkan banyak hasil positif.
  1. Memberi menyebabkan orang mengucap syukur dan memuji (2 Korintus 9:11-13).
  2. Memberi menyebabkan orang bersukacita (Filipi 4:10).
  3. Memberi menyebabkan orang berdoa (Filipi 1:4-5).
  4. Memberi mendorong orang lain untuk memberi (2 Korintus 9:2).

"Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35) Itu sebabnya, kita harus mengatur apa yang kita miliki agar kita bisa memberikan sebagian untuk menolong sesama. Ada saatnya kita menerima, namun usahakan untuk lebih banyak menjadi pemberi.

7.       Memberi hendaknya dengan kerelaan hati. Syarat-syarat memberi yang benar bisa dilihat dalam Kitab Keluaran 13:1-16, 23:19 dan Imamat 27:30-32. Jangan pernah menggunakan harta yang Tuhan percayakan hanya untuk kepentingan diri sendiri, dan jangan pernah menipu Tuhan Allah (Maleakhi 3:8-10). Dalam hal memberi, bukan soal sepersepuluh dari yang kita terima, melainkan soal pemberian sukarela sebagai ungkapan kasih dan saling membantu (2 Korintus 8:8-9). Sepuluh persen merupakan titik awal yang baik untuk mendisiplin diri Anda.

8.     Memberi harus dengan sukacita dan rela hati (Ulangan 15:7-10 dan 2 Korintus 9:7). Ketika memberi, usahakan untuk melakukannya dengan tulus seperti melakukannya untuk Tuhan, dan sebagai bentuk ucapan syukur kita akan rahmat dan kasih-Nya kepada kita, bukan untuk maksud supaya tidak mendapat hukuman dari Tuhan. Jangan pernah menghakimi orang lain yang memberi lebih sedikit daripada yang kita pikir seharusnya dapat mereka berikan (Roma 14:4-5,10). Besarnya pemberian kita haruslah sebanding dengan penghasilan kita. Sepuluh persen merupakan jumlah yang baik sebagai permulaan. Namun, ketika kita digerakkan untuk memberi lebih dari sepuluh persen, itu jauh lebih baik. Dan, ketika kita berkekurangan, jangan merasa bahwa kita tidak bertanggung jawab untuk memberi atau berpikir bahwa pemberian kita tidak berarti (Lukas 21:1-4; 2 Korintus 8:11-12). Allah tertarik pada sikap hati, bukan pada besarnya pemberian.

9.   Memberi hendaknya dilakukan dengan murah hati (2 Korintus 9:6). Allah itu murah hati dan mengambil setiap kesempatan untuk mengungkapkan kemurahan hati-Nya. Alangkah senang hati Tuhan bila kita mencerminkan sifat-Nya.

10.  Memberi harus teratur dan sistematis (1 Korintus 16:2). Terkadang, antara niat dan tindakan tidak selalu sama atau sejalan. Oleh karena itu, perlu adanya disiplin mingguan. Walaupun tidak ada sesuatu yang universal mengenai peraturan memberi secara mingguan, merencanakan pemberian sangatlah penting.

11.    Memberi hendaknya tanpa pamer (Matius 6:1-4). Seperti biasanya, hal yang penting di mata Allah adalah motivasinya, bukan tindakannya.

Sebagai orang Kristen, bersediakah kita untuk memberi? Jika belum, ingatlah ayat-ayat di atas dan segeralah melakukannya sebelum terlambat.

Selasa, 08 Oktober 2013

Kepedulian Terhadap Yang Miskin

Nats : 
  • Amsal 14:31, Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.
  •  Amsal 19:4, Kekayaan menambah banyak sahabat, tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya.
  •  Amsal 28:27, Jika orang fasik mendapat kekuasaan, orang menyembunyikan diri, tetapi jika mereka binasa, bertambahlah jumlah orang benar.
Pendahuluan :
Orang percaya yang mengasihi Allah sudah semestinya bertambah kepedulinya terhadap mereka yang miskin.  Sebab  Allah menciptakan manusia sosial, bukan hanya untuk  peka terhadap terhadap orang miskin tetapi untuk berbagi kasih.  Dengan melakukan tanggung jawab “diakonia kualitatif”: menolong yang terjepit. 
Allah adalah kasih, Allah dikenal karena kasih, dan orang Kristen  membuktikan percayanya dengan mangasihi.   Orang percaya yang tidak peduli, menghina dan meninggalkan orang miskin telah memungkiri hakekatnya.  Orang yang percaya lalu berbagi kasih kepada yang miskin, telah memuliakan Allah dan menjalani kehidupannya dengan benar. 

A.    Allah Menciptakan Manusia Bukan Untuk Miskin Dan Tersesat,
Amsal 14:31, “Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.”
Tuhan pada bagian ini tertarik kepada pribadi yang setiap saat berfikir memberikan perhatian, semangat, dan kebutuhan kepada yang miskin.
Allah memelihara dan tetap setia kepada orang yang miskin tidak berdaya.  Allah dapat saja memelihara secara langsung dan Allah memelihara orang lemah melalui orang yang lebih mampu menolongnya.
Ayub  31:15 “Bukankah Ia, yang membuat aku dalam kandungan, membuat orang itu juga? Bukankah satu juga yang membentuk kami dalam rahim?”
Bagi Allah Tidak ada perbedaan antara orang kaya ataupun orang miskin dan Allah tetap memelihara hidup orang miskin yang karena bencana, korban perang atau keadaan yang memang miskin.  Sehingga manusia yang satu ciptaan Tuhan, dengan kepekaan sosialnya membantu yang kurang beruntung. Maka Tuhan memerintahakan umatnya yang mampu untuk memberikan bantuan kepada yang lapar.  Dan Tuhan akan memberikan upah kepada yang mengulurkan tangan kepada yang miskin. Dengan demikian yang memilih menghina orang miskin telah menghina siapa penciptanya.
  
B.    Kekayaan Memberikan Banyak Kesempatan, Amsal 19:4, 7,
Kekayaan menambah banyak sahabat, tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya.
Orang miskin dibenci oleh semua saudaranya, apalagi sahabat-sahabatnya, mereka menjauhi dia. Ia mengejar mereka, memanggil mereka tetapi mereka tidak ada lagi.
Kekayaan menambah banyak sahabat, tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya. Banyak orang berpendapat dan  melihat kemana kekuatan manusia  yang cinta akan uang, sebab mereka yang memiliki banyak uang,  makin banyak orang mencintainya, sebenarnya kemanakah semestinya manusia harus melayani?  Apakah manusia yang memiliki uang bebas menggunakan sekehendak hatinya? Sehingga mereka tidak mau menolong dengan bergantian untuk melayani.
Orang yang banyak kekayaannya dapat berkesempatan menjamu atau mengelola persahabatannya.  Tetapi yang miskin tidak dapat menolong dirinya.  Bila ingin menjamu sahabatnya, tidak ada yang untuk menjamunya.  Sehingga kebanyakan sahabatnya meninggalkannya. Penderitaan orang miskin diperparah oleh sikap sesamanya yang meninggalkannya.
Banyak orang selalu melihat manusia cinta pada satu pribadi yang memiliki kekayaan saja.  Dalam hatinya berkata: “Dia itu siapa, apakah dia orang yang memiliki kesempatan kaya, sehingga haruskankah aku  memberikan rasa hormat kepadanya?
Jikalau seseorang dalam keadaan tidak berpengharapan terhadap kekayaan dan dalam keadaan miskin, apakah untungnya memberi hormat kepada orang miskin?  Orang yang tidak punya masa depan dan tidak memberi keuntungan, hanya untuk dijauhi.  Sebab banyak orang terus-menerus mengejar pada yang dipandang menguntungkannya.
Amsal 19: 6- 7, “Banyak orang yang mengambil hati orang dermawan, setiap orang bersahabat dengan si pemberi._ Orang miskin dibenci oleh semua saudaranya, apalagi sahabat-sahabatnya, mereka menjauhi dia. Ia mengejar mereka, memanggil mereka tetapi mereka tidak ada lagi”.

Ada dua versi komentar pada bagian paparan ini :
  1.  Apa yang dapat diberikan atau bagian dermawan bila dibandingkan dengan apa yang dapat diterima orang miskin. Ada suatu kekuatan atau kuasa kepada tangan yang memberi seperti pangeran yang melindungi rakyatnya.   Suatu  tampilan yang baik memandu pilihan untuk menjadikan sahabat, dengan pemikiran kebahagiaan akan menerima pemberian ketika dekat dengan dermawan seperti dekat dengan sang pangeran yang baik dan peduli rakyatnya.  Pangeran bersempatan mendapat penghargaan karena  peduli kepada bawahan yang dalam tanggung-jawabnya.  Dan setiap manusia adalah teman ketika memberi dan menerima.  Lukas. 22:25.  Yesus berkata kepada mereka: "Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung.
  2. Bagaimana kepada mereka yang miskin dan mengalami ketidak berdayaan ekonomi? Manusia boleh saja mempertanyakan kepada pengadilan tinggi kerajaan, jika dirinya di injak hidupnya hanya karena miskin. Dan manusia tidak di ijinkan menindas orang yang karena kemiskinannya. Manusia  manapun tentu tidak boleh memijak atau menginjak atas orang miskin.  Ini juga diatur dalam penyelenggaraan pemerintahan Negara maupun kerajaan.
C.    Suatu Janji Kepada Orang Yang Murah Hatinya.
Amsal 28:27, Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki.
Ia tidak akan pernah berkekurangan. _ Suatu “Perhatian” kepada setiap yang mau berbagi terhadap orang kecil yang tidak berdaya.  Dan suatu “bahaya” yang mengancam bila seseorang tidak peduli kepada orang yang tidak berdaya, kondisi bahaya tersebut selalu ada di hadapan matanya. Karena meraka yang tidak peduli akan mengalami kekurangan. 
Suatu sejarah yang telah dinyatakan dalam diri Elia yang peduli dan memperhatikan Elia adalah seorang janda Sarfat dan merupakan suatu perhatian janda Sarfat kepada hamba Tuhan yang berkekurangan makanan di hadapan janda sarfat. 
Adalah “ancaman” bilamana: saat dengan sengaja ketika berpura-pura untuk tidak melihat (peduli), maka sesungguhnya ia tidak melihat tujuan Allah kepada orang miskin. Orang yang demikian telah memilih akibat dari perbuatan hati yang tidak peduli, yaitu terkutuk. 
Akibat ketidak pedulian menyebabkan bahwa ia telah memungkikiri hakekat manusia yang sesungguhnya yang telah diciptakan Allah sebagai makluk social untuk memiliki “kepekaan”. Suatu kondisi manusia dalam pikiran dan rencana Allah adalah berfungsi bagi sesama dengan terus berdoa (memiliki hubungan pribadi) dengan Allah yang terus prihatin dan berusaha menjawab dengan perhatian, dorongan dan bantuan bagi (sesama) yang miskin.

Implikasi :
Tuhan selalu peduli kepada orang yang lemah, miskin dan kurang beruntung dalam dunia ini.  Untuk itu Tuhan kembali memerintahkan umat-Nya agar mampu mengalahkan egoisnya untuk memperhatikan, menggumuli dan menjawab persolan kemiskinan. 
Gereja salah satu tugasnya adalah diakonia.  Diakonia yang berfungsi sebagai upaya mewujudkan kasih yang menyelenggarakan keseimbangan.  Supaya yang ditolong dapat berdaya agar dapat menolong yang kurang beruntung.  Diakonia yang bersifat estafet.  Dan menjadikan komunitas kerajaan Allah, dimana kasih dikedepankan.

PENUTUP :
Pesan Firman Tuhan hari ini mengarahkan kepada 2 (dua) hal utama:
  1.  Pertama, Allah membenci semua bentuk ketidak pedulian manusia akan tugas dan tanggung-jawab membaikkan kehidupan di keluarga besar (gereja denominasi). Dan di sekitarnya (masyarakat umum).
  2.  Kedua, Allah menginginkan agar orang percaya jangan sampai memungkiri hakekatnya dan dimurkai Tuhan, dengan tetap memperkaya diri tanpa peduli orang miskin di sekitarnya.


Jumat, 13 September 2013

Berbuah: Kasih



Ketika ada seseorang bertanya kepada Tuhan Yesus, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”, maka jawabannya adalah, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Lukas 10:27).

Hukum kasih inilah yang disebut Tuhan Yesus sebagai hukum yang terutama dan yang pertama. Maka, tidak bisa tidak, sebagai murid Kristus kehidupan kita pun harus berbuah dalam kasih. Tentang mengasihi Tuhan, saya sudah menuliskan dengan judul “Mengasihi Tuhan dengan segenap”, . ...Maka, saya ingin membahasa tentang mengasihi sesama dari sudut pandang Lukas 10:29-37.

  • (29) Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” 
  • (30) Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 
  • (31) Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 
  • (32) Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 
  • (33) Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 
  • (34) Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 
  • (35) Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. 
  • (36) Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” 
  • (37) Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Mungkin saat ini kita beranggapan bahwa apa yang ditanyakan oleh orang itu agak aneh, “Siapakah sesamaku manusia?”. Bagaimana orang ini bisa tidak tahu siapa sesamanya. Tetapi ingat bahwa dalam tradisi Yahudi waktu itu, ada kelas-kelas dalam kemanusiaan. Bagi bangsa Israel waktu itu, Yahudi adalah umat pilihan Allah, suku bangsa yang tertinggi, sementara bangsa lain adalah bangsa yang najis dan berdosa. Bahkan di dalam bangsa Yahudi sendiri ada penggolongan-penggolongan kelas sosial.

Itulah sebabnya dalam jawabannya Tuhan Yesus juga menguraikan penggolongan kelas-kelas ini, seperti seorang imam, seorang Lewi, dan seorang Samaria. Apakah orang Kristen sekarang ini juga jatuh dalam pertanyaan yang sama? Kehilangan makna sejati tentang sesama manusia. Jangan-jangan kita memandang sesama adalah mereka yang punya status sosial sama dengan kita. Ataukah kita juga sama dengan imam dan orang Lewi itu? Yang hanya ingin tahu, tapi memilih menjaga jarak, tanpa mau mengasihi, karena tidak mau direpotkan.

Memang, mengasihi pun ada harga dan resikonya. Berapa banyak uang yang harus dikeluarkan oleh orang Samaria itu untuk mengasihi, dengan harapan nol bahwa dia akan mendapat balasannya. Belum lagi ada pertanyaan, bagaimana jika para penyamun itu masih bersembunyi di dekat sana, dan juga merampok orang Samaria itu?
Tuhan Yesus menegaskan mengasihi sesama manusia ini dalam Matius 7:12, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka“.

Berbuah Dalam Pengertian Terhadap Kebenaran Firman

“Menjadi Kristen itu tidak perlu pintar-pintar, tidak usahlah terlalu mengerti Firman, yang penting percaya saya, dan lakukan Firman itu”. Pendapat ini sering diperdengarkan kepada umat Tuhan, sepertinya pandangan yang baik ya, tapi ini tidaklah benar.
Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa kita harus mengerti Firman Tuhan dengan sebaik-baiknya, karena dengan itulah kita bisa berbuah.

Mari baca dalam: Matius 13:19-23
  • (19) Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.
  • (20) Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira.
  • (21) Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.
  • (22) Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
  • (23) Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.
Dalam ayat 23, jelas dikatakan bahwa orang yang berbuah itu adalah mereka yang mendengar Firman dan mengerti. Jadi, harus ada pengertian terhadap Firman Tuhan, kebenaran Firman yang Alkitabiah.
Saat kita tidak mau belajar dan tidak mau mengerti Firman, dan menerima apa saja yang diperdengarkan oleh pengkhotbah, kita tidak bisa membedakan mana Firman yang berisi kebenaran dan mana firman yang diisi pengajaran yang palsu. 

Ada beberapa hal yang bisa membuat kita salah mengerti firman.
Pertama, ayat 22 dengan tegas menyatakan bahwa kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan bisa menghalangi kita mengerti kebenaran Firman Tuhan. Hati-hati! Banyak pengajaran yang lebih sering memperkatakan kekayaan duniawi daripada kebenaran yang sejati dari Firman Allah itu sendiri.

Kedua, ayat 20-21
menunjukkan bahwa ketidak tahanan kita dalam menghadapai penindasan dan penganiayaan bisa membuat kita tidak mampu mendapat pengertian akan kebenaran Firman Tuhan. Penindasan dan penganiayaan pasti terjadi dalam hidup setiap orang percaya, tetapi bukan itu penyebabnya, melainkan bagaimana iman kita dan ketahanan kita dalam menghadapinya. Kalau sebagai orang Kristen, kita berpikir bahwa bahwa hidup kita akan selalu diberkati, mulus, dan tanpa hambatan, maka saat datang penindasan dan penganiayaan, kita tidak akan mampu berbuah — dan “murtad”.

Ketiga, ayat 19
menyatakan bahwa orang Kristen yang sudah tidak mau belajar untuk mengerti kebenaran  Firman Tuhan, pasti tidak akan berbuah.

Mari, izinkan Roh Kudus membaharui akal budi kita, sehingga kita mampu mengerti kebenaran Firman dan olehnya menjadi berbuah-buah.

Kamis, 06 September 2012

Mengapa Perlu Berdoa ?

Doa merupakan anugerah besar yang Allah berikan kepada kita. Doa bukan hanya berfungsi sebagai napas rohani, namun juga sarana yang sangat efektif bagi kita dalam mengatasi masalah-masalah kita. Tak ayal, tanpa doa baik kehidupan jasmani maupun rohani kita akan menjadi kering.

SEPULUH ALASAN MENGAPA KITA PERLU BERDOA DENGAN TEKUN
  1. Mengurangi daya stres yang ditimbulkan oleh beraneka ragam persoalan hidup yang kita alami. Mereka yang suka malas berdoa akan lebih mudah untuk mengalami stres.
  2. Menurunkan tingkat emosi atau kemarahan. Mereka yang lebih sering berdoa akan lebih mampu mengendalikan diri dalam hal emosi dan kemarahan. Mereka yang sedang mau marah dan kemudian berdoa niscaya emosinya menjadi stabil.
  3. Mengurangi bahkan menghilangkan rasa putus asa. Mereka yang tekun berdoa akan memiliki kemampuan lebih untuk tidak mudah putus asa saat berada dalam kegagalan dibanding mereka yang jarang bahkan sama sekali malas berdoa.
  4. Meningkatkan ketegaran hati. Mereka yang lebih tekun berdoa akan lebih tegar menghadapi peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar yang dikehendakinya bahkan peristiwa pahit sekalipun.
  5. Meningkatkan daya tahan tubuh dari penyakit-penyakit yang disebabkan gangguan psikis dengan ketekunan dalam berdoa. Seseorang akan memiliki daya tahan secara fisik karena doa. Mereka mampu menghadapi dan menjalani kehidupan dengan segala peristiwanya dalam terang kehendak Allah, sehingga tubuh tidak menjadi mudah lemah karena beban pikiran dan pekerjaan.
  6. Membuat orang menjadi lebih terbuka terhadap kelemahan dan kekurangan sesama. Mereka yang tekun berdoa dengan baik memiliki sikap yang lebih terbuka terhadap sesamanya karena ia akan terbantu dalam doa-doanya untuk menyadari juga kelemahan-kelemahannya sendiri.
  7. Meningkatkan daya cinta kasih kepada diri sendiri dan orang lain. Ketekunan dalam doa membuat seseorang memiliki relasi intim dengan Tuhan Allah. Allah sendiri adalah kasih maka mereka yang tekun berdoa niscaya memiliki daya cinta kasih yang lebih kepada diri sendiri dan sesamanya. Mereka yang terjerumus dalam narkoba pastilah orang yang tidak tekun berdoa karena tidak mampu mencintai dan mengasihi diri sendiri.
  8. Meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan diri. Seseorang yang dalam hidupnya tekun untuk berdoa akan memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dengan lebih maksimal karena ia akan semakin memahami talenta-talenta yang Tuhan berikan dan bagaimana seharusnya dikembangkan.
  9. Menjadikan yang tidak baik menjadi baik. Setiap orang yang tekun berdoa akan memiliki kemampuan untuk mengubah yang tidak baik menjadi baik, dibandingkan mereka yang malas berdoa justru menjadikan yang baik menjadi buruk.
  10. Layak menerima keselamatan. Dengan berdoa tekun seseorang mendapatkan kesempatan untuk semakin kuat dan bahkan karena relasinya yang baik dengan Allah selagi di dunia ini, ia juga akan mengalami yang sama kelak di keabadian.

Berdoa Untuk Orang Lain

Allah dapat menjawab doa karena iman orang yang mendoakan. Saya dapat mendoakan orang yang tidak memiliki iman, tapi jika saya memanjatkan doa yang lahir dari iman, maka Allah akan menjawab doa saya. 
 
Pada malam perjamuan terakhir, Tuhan Yesus berkata, "Simon, Simon... Aku telah berdoa untuk engkau..." (Lukas 22:31-32). Dan kita pun mengikuti teladan Kristus itu setiap waktu.

Suatu hari, saya mengunjungi seorang ibu tua yang lemah dan telah menderita selama bertahun-tahun. Ia berpaling kepada saya lalu bertanya, "Menurut Bapak, mengapa Tuhan masih menginginkan saya di dunia ini?" Saya diam karena tidak tahu jawabnya. Lalu ia mulai bercerita tentang anaknya. Anak itu telah menempuh jalan hidup yang sesat. Ketika mendengar cerita ibu itu, saya teringat akan kata-kata dalam sebuah syair: "Saya tahu kasih siapa yang masih tetap mengikuti saya, oh ibuku." Meskipun ibu itu merasa kecewa akan anaknya dan kenyataannya anak itu telah berulang kali menghancurkan hatinya, ia tetap mengasihi anaknya. Akhirnya, ia menjawab pertanyaannya sendiri, "Tuhan ingin saya tetap di sini agar saya
dapat mendoakan anak saya."

Sering kali kita merasa tak berdaya, tapi kita selalu dapat berdoa.
 
Berdoa untuk orang lain bukan saja merupakan kehormatan, melainkan juga kewajiban yang sungguh-sungguh harus ditaati. Nabi Samuel berkata: "... jauhlah daripadaku untuk berdosa kepada Tuhan dengan berhenti mendoakanmu...." (1 Samuel 12:23) Orang-orang Kristen mendoakan orang lain yang mereka kasihi dan orang-orang yang sulit untuk dikasihi. Yesus mengatakan, "... dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:44)

Jika kita berbicara tentang orang yang kita benci, akhirnya api panas dari kebencian di dalam diri kita akan dipadamkan lalu kita akan mulai melihat orang itu dengan pandangan roh Tuhan sehingga kita dapat mengatakan, "Bapa, ampunilah mereka."

Bila kita berdoa untuk mereka yang kita kasihi dan yang memerlukan pertolongan, kita mengembangkan pengharapan dengan kekuatannya yang senantiasa bertahan sepanjang hidup kita.

Bila anak kita sakit, kita akan merasa lega jika dokter datang karena kita tahu bahwa ia dapat berbuat sesuatu bagi anak kita. Dan bila kita membawa seseorang yang membutuhkan pertolongan ke dalam tangan Tuhan, kita akan merasakan damai dalam hati kita, sebab berdoa untuk orang lain berarti menolong diri kita sendiri.

Bila Yesus berkata, "Simon, Aku telah berdoa untukmu," Simon berbesar hati. Bila Martin Luther merasa kuat dan bahagia, ia mengatakan, "Saya merasa seolah-olah ada orang yang mendoakan saya."
Orang yang mendapat kritik dari orang lain akan merasa tertekan, tapi jika ia tahu bahwa ada orang yang berdoa untuknya, maka ia akan memperoleh sumber kekuatan yang dapat membuatnya bertahan.

Pada masa-masa sulit dalam sejarah Inggris, Oliver Cromwell menulis surat kepada laksamana-laksamana di laut: "Banyak doa dipanjatkan untuk kita setiap hari, hal ini merupakan dorongan semangat yang besar."

Beberapa waktu yang lalu ada beberapa orang anggota gereja lain menceritakan kepada saya tentang kekurangan-kekurangan pendetanya. Saya menceritakan kepada mereka bagaimana Paulus meminta agar umatnya mendoakan dia. Dalam setiap surat yang ia tulis, ia minta agar didoakan, kecuali kepada umat di Galatia. Saya lalu menyebut nama-nama pengkhotbah yang cara pelayanannya menunjukkan kemajuan pesat bila mereka tahu bahwa ada orang-orang di dalam gerejanya yang secara tetap mendoakan mereka. Jika seseorang tahu bahwa orang-orang lain berdoa untuknya, maka ia sendiri akan menolong orang itu dengan doanya.

Bila saya mendoakan orang lain, berarti saya tergerak melakukan sesuatu untuk menolong orang itu. Dan sering kali usaha orang yang mendoakan itu cukup untuk menjawab doa itu. Contohnya, jika saya berdoa untuk seseorang yang sedang sakit, mungkin salah satu faktor yang menyebabkan penyakitnya ialah karena orang itu merasa kesepian, putus asa, dan kehilangan gairah untuk hidup. Sebagai hasil dari doa saya, saya merasa tergerak untuk menaruh perhatian dan menunjukkan sikap kasih sayang yang mungkin dapat mengubah sikap mental si penderita, dan hal ini bisa jadi merupakan titik balik antara penyakit dan kesehatan.
  • Jika saya berdoa untuk seseorang yang mengalami kesulitan ekonomi, saya tergerak untuk menolong dia dengan memberi atau meminjamkan sebagian dari milik saya. Jika saya berdoa untuk jiwa seseorang, saya tergerak untuk mengundang dia pergi ke gereja bersama-sama.
  • Jika saya berdoa untuk kesejahteraan lingkungan saya, maka saya akan menyediakan lebih banyak waktu lagi untuk pelayanan lingkungan saya.
  • Bila saya berdoa untuk orang lain yang lemah, saya membawa kekuatan yang datang dari Allah untuk dipusatkan pada kehidupan dan keadaan orang itu.
Alkitab berkata, "Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia, dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni, karena itu, hendaklah kamu saling mendoakan." (Yakobus 5:14-16)

Perhatikanlah terutama kata-kata "doa yang lahir dari iman". Kita tahu bahwa iman merupakan fondasi utama dari doa, tapi di sini kita melihat bahwa orang yang didoakan tidak selalu harus memiliki iman.
Allah dapat menjawab doa karena iman orang yang mendoakan. Saya dapat mendoakan orang yang tidak memiliki iman, tapi jika saya memanjatkan doa yang lahir dari iman, maka Allah akan menjawab doa saya.

Di atas kayu salib, Yesus berkata, "Ya Bapa, ampunilah mereka...." (Lukas 23:34) Jelas bahwa Tuhan Yesus tidak akan memanjatkan satu doa yang mustahil. Ia tahu bahwa mereka yang telah menyalibkan Dia adalah orang-orang yang tidak menyesali perbuatannya dan tidak memiliki iman. Walaupun demikian, Tuhan dapat mengampuni mereka karena doa yang telah dipanjatkan untuk mereka lahir dari iman Yesus Kristus.

Apakah Anda pernah berdoa untuk seseorang tapi belum terkabul? 
Setiap doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh harus disertai kata-kata Kristus, "... tapi bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi." (Lukas 22:42) Dan mungkin jawaban yang Anda nantikan tidak sesuai dengan kehendak Allah. Atau, mungkin Allah memunyai alasan-alasan tertentu sehingga tidak segera menjawab doa Anda.

Mari kita ingat kata-kata pemazmur, "... bergembiralah karena Tuhan maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu, serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak. Berdiam dirilah di hadapan Tuhan dan nantikanlah Dia." (Mazmur 37:4,5,7)

Tapi mungkin pula doa Anda tidak terjawab karena Anda tidak berdoa dengan saksama dan saya yakin bahwa beberapa orang mendapatkan jawaban yang lebih lengkap dari orang lain karena mereka tahu cara berdoa yang lebih baik. Berikut ini saya uraikan cara berdoa yang baik untuk orang lain.

1. Berdoalah sungguh-sungguh untuk orang itu. 

Bayangkanlah orang itu dengan jelas di dalam pikiran kita, sehingga kita seolah-olah dapat melihat dia di hadapan kita. Pastikanlah secara tegas sedapat mungkin apa yang menjadi kebutuhan orang itu dengan mempertimbangkan keadaan hidupnya.

2. Dengan membayangkan orang yang bersangkutan di dalam pikiran kita, pusatkanlah pikiran kita kepada Allah. 

Untuk ini, saya sering membayangkan suatu kejadian tertentu dalam kehidupan Kristus yang cocok dengan kasus orang itu. Misalnya, jika orang yang saya doakan itu memerlukan kebutuhan jasmani, ingatlah kejadian ketika Kristus memberi makan orang banyak. Jika hidup orang itu tidak benar, ingatlah akan Ia yang berkata, "Pergilah, jangan berbuat dosa lagi." Jika orang itu sakit, ingatlah kepada wanita yang menjamah jubah Yesus. Kita pusatkan pikiran kita kepada Allah dan orang itu bersama-sama.

3. Di dalam doa kita, angkatlah orang itu di hadapan Allah. 

Kita jangan mencoba menceritakan kepada Tuhan apa-apa yang tidak kita ketahui. Demikian pula jangan mencoba mendesak Allah untuk berbuat sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya. Ingatlah kata-kata  Agustinus: "Tanpa Tuhan kita tidak bisa, tanpa kita Tuhan tidak mau." Pandanglah diri kita sendiri sebagai perantara manusiawi yang diperlukan untuk mempertemukan orang itu dengan Allah.

4. Ceritakanlah kepada Allah apa yang tersimpan di dalam hati kita.
 
Namun ingatlah untuk berdoa secara positif. Jangan memusatkan doa kita pada kelemahan, penyakit, atau dosa orang itu, melainkan pusatkanlah pada kekuatan orang itu, dan bayangkanlah di dalam hati dan pikiran kita suatu jawaban yang kita kehendaki, lalu bayangkan orang yang menerima jawaban itu. Berdoalah dengan penuh pengharapan.

5. Berdoalah terus sampai jawaban Tuhan kita terima.
Pada tahun 1872, Profesor John Tyndall, seorang ilmuwan Inggris, menyatakan bahwa doa itu sesungguhnya tidak ada gunanya. Untuk mempertahankan pendapatnya itu, ia menantang orang-orang Kristen untuk mengadakan tes. Ia berkata, "Pergilah ke rumah sakit dan bagilah penderita-penderita di dalam dua kelompok. Pastikanlah bahwa mereka menderita penyakit yang hampir sama dan mereka menerima perhatian medis yang sama pula. Lalu biarlah orang-orang Kristen mendoakan kelompok yang satu sedang kelompok yang lain diabaikan. Selanjutnya kita akan menyaksikan apakah ada kemajuan-kemajuan yang terlihat pada orang-orang yang didoakan itu.

Percobaan itu sama sekali tidak masuk akal. Kita tak dapat membagi orang-orang sakit dalam kelompok sesuai dengan sakit dan penderitaan yang identik. Kita juga tidak dapat memastikan apakah setiap kelompok mendapatkan pelayanan medis yang sama. Tapi yang lebih penting, kita juga tidak dapat memastikan apakah tidak ada di antara orang dalam kelompok yang diabaikan itu yang tidak didoakan oleh orang yang mengasihinya. Walaupun demikian, jika percobaan itu dapat dilaksanakan, pasti dapat dibuktikan bahwa doa akan menimbulkan perbedaan.

Doa bukan saja efektif terhadap orang sakit, tapi juga memunyai kekuatan untuk mengisi setiap kebutuhan dalam hidup kita. Berulang kali saya memberikan nasihat kepada seorang istri maupun suami yang pernikahannya kurang bahagia, "Tanpa diketahui oleh yang lain, berdoalah dengan sungguh-sungguh." Sering kali saya menyaksikan bahwa doa berhasil saat segala usaha lain gagal.

Bayangkanlah seseorang di dalam satu ruangan sebuah rumah dan Tuhan berada di ruang sampingnya. Di antara kedua ruang itu terdapat dinding penyekat. Jika kita berdiri di pintu yang menghubungkan kedua ruang itu, kita dapat melihat mereka yang berada di masing-masing ruang. Yang satu dapat berbicara kepada yang lain melalui kita. Mungkin kita memunyai hubungan dengan beberapa orang yang memerlukan pertolongan Tuhan. Di antara Tuhan dan orang itu ada sebuah dinding penghalang. Mungkin dinding itu berupa rasa tidak percaya, sikap acuh tak acuh, atau cara hidup yang salah. Tapi karena kita memunyai hubungan baik dengan orang itu dan juga dengan Tuhan, maka kita dapat menjadi penghubung antara keduanya. Dan, dengan doa-doa kita, kita menyampaikan kebutuhan orang itu kepada kuat kuasa Tuhan.

Mengapa Kita Berdoa ?

Salah satu hak terbesar yang dianugerahkan Tuhan kepada kita,   anak-anak-Nya adalah hak untuk berdoa. Doa lebih dari sekadar   bercakap-cakap dengan Tuhan; doa memunyai begitu banyak makna dan tujuan lainnya. Berikut akan dipaparkan beberapa di antaranya.

1. Ketika berdoa, kita diarahkan kembali kepada kehendak Tuhan.
Sewaktu bangsa Israel bersiap memasuki tanah yang dijanjikan Tuhan, mereka mengirimkan 12 pengintai. Sepuluh pengintai mengecilkan hati seluruh umat, tetapi Kaleb dan Yosua justru membesarkan hati mereka. Mereka melihat kepada Tuhan, bukan kepada masalah. Dengarlah perkataan mereka, "Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu .... TUHAN menyertai kita, janganlah takut kepada mereka." (Bilangan 14:8-9)

Jika kita tidak berdoa, kita hanya melihat manusia dan situasi, tetapi ketika berdoa, kita melihat Tuhan. Itu sebabnya lewat doa, sering kali Tuhan membelokkan kembali langkah hidup kita agar seturut dengan kehendak-Nya.

2. Ketika berdoa, kita memperoleh kekuatan dan hikmat yang kita butuhkan untuk dapat melakukan kehendak Tuhan.
Adakalanya Musa menjadi terlalu letih memimpin bangsanya yang memang tegar tengkuk itu. Dengarkanlah keluhannya, "Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku." (Bilangan 11:14) Setelah berdoa, Tuhan menjawab dan menyediakan jalan keluar bagi Musa yakni memintanya mengangkat 70 tua-tua untuk membantunya.

Kita mesti menyadari bahwa pergumulan kita bukan hanya melawan keletihan jasmaniah tetapi juga keletihan rohaniah. Melalui doa, Tuhan memberi kita kekuatan untuk kembali melangkah. Melalui doa, Ia kerap membukakan mata kita, sehingga kita dapat melihat kehendak-Nya dengan lebih jelas.

3. Ketika berdoa, kita membawa kehadiran Allah di dalam hidup kita.
Melalui doa kita dibawa masuk ke dalam hadirat Allah; itu sebabnya bila kita menjadi anak Tuhan yang senantiasa berdoa, kita pun akan senantiasa berada dalam hadirat Allah.

Sewaktu Musa berbicara dengan Tuhan, sinar kemuliaan Tuhan turun atasnya pula, sebagaimana dicatat di Keluaran 34:29, "Ketika Musa turun dari gunung Sinai... tidaklah ia tahu bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN."

Lewat doa, kita bertatapan muka dengan Tuhan. Tidak heran bila kita banyak berdoa, kuasa dan kemuliaan Tuhan pun menyertai kita.

4. Ketika kita berdoa bagi orang lain, kita akan lebih menyadari kebutuhan mereka.
Sewaktu Musa berada di atas gunung, orang Israel membuat patung anak lembu emas untuk disembah. Tuhan marah dan ingin memusnahkan mereka, tetapi Musa menghalangi niat Tuhan. Kepada bangsanya, Musa berkata, "Kamu ini telah berbuat dosa besar tetapi sekarang aku akan naik menghadap Tuhan, mungkin aku akan dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu." (Keluaran 32:30) Musa selalu memohon belas kasihan Tuhan atas kesalahan bangsanya sebab ia menyadari kelemahan mereka.

Bila kita berdoa bagi seseorang, kita akan diingatkan akan kebutuhannya. Tatkala kita mengingat kebutuhannya, kita pun akan memikirkan dan memedulikannya.

5. Ketika kita berdoa untuk pelayanan yang kita lakukan, kita mengundang berkat Tuhan untuk turun atas pekerjaan-Nya.
Tuhan Yesus sendiri memberi contoh untuk berdoa. Kendati Ia Putra Allah, namun sebagai manusia biasa Ia memerlukan berkat Allah Bapa atas pekerjaan-Nya. Kita berdoa sebab kita tahu bahwa kita hanyalah alat di tangan Tuhan. Sesungguhnya Ia sendirilah yang tengah melakukan karya-Nya.

Di dalam salah satu percakapan antara Tuhan dan Musa, Ia berjanji kepada hamba-Nya, "Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu." (Keluaran 33:14)

Jauh sebelum Musa menyelesaikan tugasnya, ia telah mendapat kepastian berkat Tuhan atas pekerjaan yang diembannya. Tuhan akan membimbingnya dan memberinya istirahat. Semua akan terlaksana dan selesai!

Doa "Berkat" Ibadah


 
Bacaan Ayat : Lukas 24:50-52
24:50 Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka.
24:51 Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga.
24:52 Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.

PENDAHULUAN :
Jangan pulang duluan jika ingin menerima berkat lebih banyak! Penyampaian “berkat pulang” di akhir ibadah hari Kebaktian, semestinya merupakan saat-saat yang menyenangkan bagi segenap jemaat.
Dengan mengangkat kedua tanganku, aku mendengarkan dan mengaminkan setiap berkat yang diucapkan bagiku. Terlebih lagi akan menjadi kesukaan, bilamana hamba Tuhan menyampaikan ucapan berkat yang lengkap bagi kebutuhan hidupku namun tidak bertele-tele.

Pada umumnya ada dua ucapan berkat yang biasa disampaikan oleh hamba Tuhan diakhir ibadah umat Kristen, yaitu ucapan berkat Harun dan ucapan berkat Paulus.

1.       Ucapan Berkat Harun. 

Ucapan berkat Harus terambil dari kitab Bilangan 6:24-26.
“TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.”.

Ini sesuai dengan perintah Tuhan bagaimana Harun dan anak-anaknya harus memberkati umat Israel. Perhatikanlah bahwa semua apa yang kita perlukan sudah ada disana: berkat, perlindungan, kasih karunia dan damai sejatera!

2.       Ucapan Berkat Paulus. 

Ucapan berkat Paulus terambil dari : 2 Korintus 13:13,
“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Apa yang kita perlukan dilimpahkan kepada kita, yaitu: kasih karunia Tuhan Yesus, kasih dari Bapa, dan persekutuan dengan Roh Kudus.

3.       Manfaat Doa Berkat :
  • Kita memerlukan berkat-berkat dari Tuhan, baik berkat secara rohani, jiwani maupun berkat-berkat jasmani dan materi.
  • Kita juga perlu perlindungan, baik keamanan diri sendiri, keluarga maupun keamanan bagi pekerjaan dan usaha kita.
  • Kita perlu kasih karunia dari Tuhan Yesus, istimewanya adalah kasih karunia di dalam penebusan olehNya di kayu salib.
  • Kita perlu damai sejahtera sebagaimana semua orang di dunia ini mencarinya. Namun damai sejahtera yang kita cari dan kita inginkan adalah damai sejahtera yang dari Tuhan dan bukan sekedar kenyamanan duniawi.
  • Kita butuh persekutuan dengan Roh Kudus karena ada banyak hal yang kita tidak mengerti dan tidak kita ketahui, Roh Kuduslah yang akan membimbing dan menuntun jalan kehidupan kita!
IMPLIKASI :
  • Jangan pulang duluan ketika mengikuti ibadah di gereja. Ikuti ibadah hingga selesai, hingga Anda menerima berkat pulang!
  • Ketika menerima berkat pulang dari hamba Tuhan, bayangkanlah (dalam Iman) bahwa Tuhan Yesus sendiri yang memberkati Anda sebagaimana Ia memberkati murid-muridNya sebelum terangkat ke Sorga.
  • Dan sebagaimana murid-muridNya pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita, maka Anda pun akan pulang dengan bersukacita.
  • Ini adalah berkat awal yang dapat Anda bawa pulang sebagai bekal untuk mengawali hari esok yang penuh dengan kemenangan.
  • Sama seperti ketika bertamu, janganlah tinggalkan rumah Tuhan sebelum Tuhan selesai berbicara.

Rabu, 22 Februari 2012

ASPEK-ASPEK MELAYANI TUHAN

Kata "melayani" tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita, orang Kristen. Dalam Alkitab, kita bisa menemukan banyak sekali tokoh yang melayani Tuhan. Bahkan, Yesus yang adalah Allah juga melayani hamba-hamba-Nya.

Hal paling mendasar yang harus dilakukan setiap orang, baik kepada Tuhan maupun sesama adalah kesediaan untuk melayani. Namun, tidak semua pelayanan adalah berkenan di hadapan Tuhan. Ada hal-hal yang harus diperhatikan. Berikut ini adalah empat di antaranya.

1 Pengorbanan diri.

Kristus datang ke dunia untuk melayani, bukan untuk dilayani. Dia menginginkan umat-Nya bergerak dengan hati yang melayani. Pengorbanan diri berarti mengarahkan pikiran pada kebutuhan orang lain, dan berusaha memenuhinya sekali pun harus mengorbankan kepentingan diri pribadi. Bersiaplah untuk mengorbankan apa yang ada dalam hidup Anda -- tenaga, uang, waktu, kenyamanan, bahkan hidup Anda sendiri -- sebelum Anda melayani orang lain, karena melayani identik dengan pengorbanan.

2 Belas kasih yang nyata.

Kasih hendaknya menjadi penggerak utama untuk kita melayani sesama, bukan karena program gereja atau karena orang lain. Kasih sejati selalu disertai tindakan nyata, seperti yang ditunjukkan dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Ia rela mengotori tangannya demi yang membutuhkan, tanpa memandang latar belakang orang itu (Lukas 10:25-37). Di akhir perumpamaan-Nya, Yesus berkata, "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

3 Kesediaan hati.

Kesediaan hati atau kerelaan diperlukan untuk dapat melayani orang lain. Kerelaan hati juga berarti melakukan sesuatu dengan sukarela, tanpa mengharapkan imbalan, atau mencari keuntungan. Kesediaan memberi hendaknya dilakukan dengan apa yang kita punya, bukan dengan apa yang tidak kita punyai. "Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu." (2 Korintus 8:12)

4. Melayani dengan tekun.

Hidup melayani orang lain tidak dilakukan dalam masa yang singkat, melainkan akan berlangsung sepanjang kehidupan kita. Melayani dengan ketekunan dan kesabaran ibarat aliran air yang menyegarkan tanah yang haus, sedangkan pelayanan tanpa ketekunan ibarat banjir yang menerjang sehingga menyebabkan bencana tanah longsor. Layanilah orang lain dengan penuh kesabaran dan ketekunan, sehingga pelayanan kita dapat bermanfaat dan dirasakan orang lain. Selamat melayani!

PESAN YANG MEREMEHKAN

Salah satu tugas orang tua adalah memampukan anak-anaknya untuk menilai diri mereka sendiri, seperti halnya Tuhan menilai mereka. Sarana utama untuk mencapainya adalah melalui pesan yang membangun, baik dengan perkataan, sikap, maupun perbuatan. Jika Anda mengisi kehidupan mereka dengan pesan-pesan yang positif tentang arti hidup mereka bagi Anda dan bagi Tuhan, mereka akan mengembangkan disiplin dan harga diri, dan menjadi orang dewasa yang mandiri serta bertanggung jawab. Sayangnya, ada orang tua yang menyampaikan pesan yang tidak membangun kepada anak-anak mereka, sehingga memengaruhi cara anak menilai diri sendiri secara negatif dan menganggap seperti itulah Tuhan menilai. Pesan seperti ini adalah pesan yang merusak.

Pesan yang Meremehkan Tidak Dapat Ditoleransi

Pesan meremehkan yang ditujukan kepada seseorang, bisa mengurangi nilai sebenarnya dari orang tersebut. Apabila Anda menyampaikan perkataan yang meremehkan kepada anak-anak Anda, Anda tidak membangun harga diri mereka. Apa yang Anda sampaikan, dapat mengakibatkan mereka meragukan arti hidupnya bagi Anda dan bagi Tuhan.

Pada dasarnya, pesan yang meremehkan merupakan bentuk penyangkalan terhadap salah satu atau lebih dari hal-hal berikut:

1. Pesan yang meremehkan biasanya menyangkali keberadaan anak atau menyangkali sesuatu yang dia nilai atau takuti. Apabila Anda mengacuhkan anak Anda, itu berarti Anda menyampaikan pesan yang menyangkali keberadaannya. Apabila anak Anda mengatakan bahwa dia takut sendirian berada di kamar tidurnya yang gelap pada malam hari, dan Anda berkata, "Tidak ada yang perlu ditakuti", artinya Anda menyangkali adanya masalah yang sangat nyata baginya.

2. Pesan yang meremehkan menyangkali beratnya suatu masalah atau pentingnya suatu peristiwa dalam kehidupan seorang anak. Misalnya, anak laki-laki Anda tertekan dalam menyelesaikan tugas ilmiah dari sekolahnya, kemudian Anda berkata, "Itu bukan masalah yang besar", maka Anda menyangkali beratnya masalah dan pentingnya tugas yang dia hadapi.

3. Pesan yang meremehkan menyangkali bahwa masalah yang dihadapi anak dapat diselesaikan. Anda meremehkan anak Anda ketika Anda membuat pernyataan, "Lupakan saja, Johny, engkau tidak dapat berbuat apa-apa."

4. Pesan yang meremehkan menyangkali kemampuan anak untuk berhasil dalam bidang tertentu. Misalnya, Anda berkata kepada anak Anda, "Engkau tidak akan terpilih menjadi anggota tim sepak bola."

Ketika Anda menyangkal anak Anda dalam salah satu di antara keempat hal di atas, itu berarti Anda menyampaikan pesan yang meremehkan, yang menghambat perkembangan anak Anda untuk dapat menjadi dewasa dan mandiri.

Pesan yang Meremehkan Selama Waktu Krisis

Orang tua sering merasa bersalah karena menyampaikan pesan yang meremehkan pada waktu anak menghadapi krisis dalam kehidupannya. Salah satu hadiah yang sangat berharga yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita adalah kemampuan untuk dapat menghadapi kehilangan. Kesedihan adalah bagian dari kehidupan. Tetapi, sering kali pengalaman krisis seorang anak lebih ringan dibandingkan krisis orang dewasa. Jadi, kita cenderung untuk menyampaikan pesan yang menyangkalinya, dan bukannya pesan yang membangun anak untuk menjalani pengalaman itu. Dengan demikian, kita meremehkan anak dan menghambat pertumbuhannya.

Saat anjing anak Anda mati, jangan berkata kepadanya, "Itu hanya seekor anjing dan ada banyak anjing yang seperti itu. Minggu depan kita akan membeli seekor anjing yang lebih baik." Selama waktu krisisnya, anak Anda sangat memerlukan dukungan dari Anda untuk dapat memahami kesedihannya, keseriusan masalah yang dihadapinya, dan menegaskan kemampuannya untuk mengatasinya. Anda seharusnya berkata, "Saya tahu bahwa engkau sedih karena anjing itu sangat berarti bagimu. Saya dapat melihat kesedihan itu di matamu. Saya juga sedih. Kita berdua akan merasa kehilangan." Pesan ini adalah pesan yang membangun.

Meremehkan dan Menertawakan

Cara lain yang dilakukan orang tua di dalam menyampaikan pesan yang meremehkan kepada anak-anak adalah dengan menertawakan. Tertawa dengan seorang anak adalah sehat. Tetapi menertawakan kepedihan, kegagalan, atau sesuatu yang memalukan anak Anda, berarti meremehkan dia. Ini adalah bentuk perlakuan kasar melalui perkataan. Dalam keluarga sering kali terjadi hal-hal yang lucu. Tetapi jika sumbernya adalah kemalangan anak Anda, maka Anda harus menunggu sampai anak Anda tertawa, meskipun untuk itu Anda harus menahan tawa atau meninggalkan ruangan untuk mengendalikan diri Anda.

Berbagai Bentuk Pesan yang Meremehkan

Ada banyak bentuk pesan yang meremehkan. Celakanya, setiap pesan yang meremehkan tersebut bisa membutakan anak dari kebenaran tentang arti hidupnya bagi Tuhan, dan menghalangi perkembangan harga dirinya. Beberapa bentuk pesan yang meremehkan adalah sebagai berikut:

a. Penganiayaan. Penganiayaan bisa dilakukan secara fisik, emosi, seksual, dan perkataan. Banyak orang tua, tanpa sadar telah menganiaya anak-anaknya melalui perkataan. Penganiayaan melalui perkataan sama-sama meremehkan, seperti halnya bentuk penganiayaan fisik.

b. Mengabaikan. Tidak memberikan perhatian secara fisik, emosi, atau dengan perkataan adalah suatu bentuk penganiayaan secara pasif. Pengabaian menyebabkan anak merasa disisihkan.

c. Kasih yang bersyarat. Pesan dari kasih yang bersyarat merupakan ancaman secara tidak langsung dan juga terang-terangan, berdasarkan kebutuhan atau harapan yang dimiliki orang tua dan bukan berdasarkan kebutuhan anak.

d. Memanjakan. Tindakan orang tua yang memanjakan adalah bentuk kasih yang berlebihan, dan bisa menjadi kebiasaan buruk bagi anak. Memanjakan anak sama dengan meremehkan, karena menyebabkan anak bergantung pada orang tuanya dan menghambat kemampuannya untuk berpikir bagi dirinya. Memanjakan anak juga berarti mengaburkan arti tanggung jawabnya secara pribadi.

Mengorbankan Anak dengan Pesan yang Meremehkan

Kita banyak mendengar tentang pengorbanan. Anak-anak yang tumbuh dengan menerima pesan yang meremehkan akan menderita, karena mereka terbiasa menjadi korban kesalahan. Mereka belajar untuk mengatasi pesan yang mengecam, menyisihkan, meremehkan, yang mereka terima dengan menyalahkan diri sendiri. Sebelum menginjak masa remaja dan dewasa, mereka mungkin bebas dari pesan orang tua mereka yang meremehkan. Tetapi, pada saat itu, mereka sudah terbiasa mengendalikan diri sendiri. Mereka membuat pernyataan yang mengecam, menyangkal, dan menyalahkan diri sendiri.

Terkadang tanpa sadar, orang tua perlahan-lahan telah menyebabkan anak-anak menjadi korban kesalahan, melalui pesan yang meremehkan yang mereka sampaikan. Kita tidak dapat menduga betapa kuatnya pengaruh perkataan, nada suara, dan perbuatan kita kepada anak-anak kita.

Seorang anak yang bertumbuh dengan pesan-pesan negatif, akan terbiasa menyalahkan dirinya atas keadaan-keadaan yang sebenarnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Dia tidak akan menjadi orang yang dewasa, mandiri, percaya diri. Sebaliknya, kehidupannya akan ditandai dengan kebiasaan menyalahkan diri sendiri, menghukum diri sendiri, gelisah, dan merasa menjadi korban.

Memutuskan Siklus yang Meremehkan

Jika Anda terbiasa menyampaikan pesan yang meremehkan kepada anak-anak Anda, kemungkinan besar Anda menerima pesan itu dari orang tua Anda ketika Anda masih anak-anak. Sampai batas tertentu, Anda terbiasa menjadi korban kesalahan dan mengambil sikap meremehkan diri sendiri. Karena sikap yang meremehkan berlaku pada orang tua Anda, dan sekarang berlaku pada Anda, Anda sekarang menyampaikannya kepada anak-anak Anda yang terbiasa menjadi korban seperti Anda. Meremehkan dalam keluarga adalah siklus yang merugikan. Untuk menghentikan aliran pesan yang meremehkan dari Anda kepada anak-anak Anda, Anda harus memutuskan siklus itu dengan mengatasi sikap Anda yang meremehkan.

Langkah pertama untuk memutuskan siklus ini adalah dengan mengenali pola pikir Anda yang meremehkan. Kecenderungan meremehkan sering kali begitu berakar, sehingga kecenderungan ini merupakan suatu tanggapan yang spontan. Membawanya ke permukaan akan menuntut Anda untuk bekerja dan berusaha, tetapi hasilnya setara dengan usaha Anda. Sadarilah bahwa Anda melakukannya bukan untuk memperbesar rasa bersalah atau bersikap terlalu keras pada diri sendiri. Anda hanya sedang berusaha untuk mengenali seberapa jauhkah kelakuan Anda didorong oleh kelakuan yang meremehkan.

Salah satu cara untuk menentukan apakah meremehkan merupakan bagian dari kehidupan Anda adalah dengan menelusuri tanggapan Anda atas masalah-masalah. Bertanyalah pada diri Anda sendiri: Apakah saya mengabaikan masalah yang benar-benar ada? Apakah saya beranggapan bahwa tidak ada penyelesaian untuk masalah itu? dll..

Kabar baiknya adalah Anda bisa berubah. Anda dapat memutuskan siklus meremehkan yang ada di dalam keluarga Anda. Anda harus menyelidiki sikap dan tanggapan Anda. Setelah Anda mengenali polanya, Anda bebas memilih cara pendekatan atau penyelesaian yang membangun. Apa yang Anda pelajari tentang diri Anda, akan membantu Anda mengubah tanggapan Anda yang meremehkan terhadap anak-anak Anda.

BERHATI-HATI DENGAN LIDAH

"Mereka menggusarkan Dia dekat air Meriba sehingga Musa kena celaka karena mereka; sebab mereka memahitkan hatinya sehingga ia teledor dengan kata-katanya." (Mazmur 106:32-33)

Salah satu kisah tragis yang dicatat di Alkitab adalah kisah kegagalan Musa masuk ke tanah yang dijanjikan Tuhan. Di padang gurun Meriba, orang Israel mengeluhkan ketidakadaan air, dan Tuhan memerintahkan Musa untuk berkata-kata kepada bukit batu untuk mengeluarkan air. Musa tidak menaati Tuhan; bukannya berkata-kata, ia malah memukul bukit batu itu dua kali. Tuhan marah dan berkata kepada Musa, "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka." (Bilangan 20:2-13) Musa gagal sebab ia teledor dengan mulutnya. Dan sayangnya, ada begitu banyak orang yang gagal oleh karena perkataannya. Yakobus 3:2-12, memberi kita panduan tentang menjaga lidah sebagaimana dapat kita lihat berikut ini.

1. Banyak kesalahan dibuat oleh lidah. Dengan kata lain, salah satu pergumulan terbesar dalam hidup adalah pergumulan mengekang lidah. Kesalahan terbesar bukanlah pada dosa tidak mengatakan, melainkan pada mengatakan yang tidak seharusnya dikatakan. Orang yang dapat mengendalikan lidah, diumpamakan seperti kekang pada mulut kuda dan kemudi pada kapal yang berlayar di tengah angin keras. Singkat kata, pergumulan menguasai lidah diumpamakan seperti pergumulan menguasai kuda dan menerjang badai di lautan. Sungguh suatu pergumulan yang besar!

2. Jika demikian, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya terlebih mudah menuruti kemauan lidah daripada menolaknya. Jika perjuangannya begitu besar, sudah tentu menyerah akan jauh lebih mudah.

3. Akibat dari penggunaan lidah yang tak terkekang adalah dahsyat, sehingga dilukiskan seperti kebakaran hutan yang besar dan racun yang mematikan. Perkataan yang tak bertanggung jawab dapat menimbulkan kerusakan yang besar. Banyak relasi rusak akibat lidah, banyak kepercayaan hilang oleh lidah, banyak respek yang pudar juga oleh karena lidah.

4. Pada akhirnya kita harus mengakui bahwa kita lebih sering gagal menguasai lidah, ibarat binatang buas yang tak dapat dijinakkan sepenuhnya. Lebih sering kita menyesali kegagalan kita, namun sekali perkataan keluar, kita tidak dapat menariknya kembali.

5. Yang terpenting adalah kita harus membersihkan hati, sehingga dari dalamnya akan keluar air yang bersih. Dengan kata lain, pengekangan lidah diawali dengan pembersihan hati. Jika kita penuh kemarahan, maka kemarahanlah yang akan keluar dari mulut; jika kita penuh kepahitan, maka kepahitan yang akan keluar dari mulut. Sebaliknya, bila hati dipenuhi kasih Tuhan, maka kasihlah yang akan keluar dari mulut. Jika hati penuh iman percaya kepada Tuhan, maka pengharapan dan keyakinanlah yang akan keluar dari mulut.

Langkah Praktis Mengekang Lidah

a. Sebelum berkata-kata, pastikanlah kebenarannya terlebih dahulu. Jangan sampai kita menyebarkan gosip yang dapat menghancurkan hidup orang.

b. Sebelum berkata-kata, pikirkanlah dampaknya terlebih dahulu dan bertanyalah apakah kita siap menanggungnya.

c. Sebelum mengatakan sesuatu yang mengandung emosi, tahanlah dan menyingkirlah. Tenangkan hati sampai gejolak reda, baru kemudian timbang lagi apakah memang perlu kita mengatakannya.

d. Terakhir, sebelum berkata-kata, ujilah terlebih dahulu apakah ada dosa di dalamnya. Jika ada, berhentilah, jangan meneruskannya.

"Barang siapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat mengendalikan seluruh tubuhnya." ( Yakobus 3:2)

Senin, 20 Februari 2012

Kerukunan (Cinta Satu Sama Lain)

Nats: Mazmur 133:1-3
133:1 Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!
133:2 Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.
133:3 Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.



Catatan: Perihal hidup rukun; suatu kesepakatan; asas; dasar; sendi: semuanya terlaksana dengan baik, tidak suatu pun yang menyimpang dari pakemnya; menjadikan rukun; mendamaikan; menjadikan bersatu hati.

Semua orang merindukan suasana rukun dan damai dalam kehidupan. Pertengkaran, konflik apalagi perang membuat hati kita semua orang gundah dan susah. Namun dalam prakteknya suasana rukun dan damai atau harmoni tidak selalu mudah terjadi di tengah-tengah kehidupan nyata.

Ada saja dan banyak masalah yang membuat seorang tidak bisa rukun dengan saudara atau tetangganya atau bahkan dengan pasangan hidupnya sendiri, atau orangtua/anak kandungnya sendiri. Ada pula yang mengatakan berhubung konflik adalah keniscayaan atau tak terhindarkan maka sebaiknya dikelola atau dikendalikan saja. Namun baiklah diingat dalam konflik keluarga apalagi perang saudara biasanya tidak pernah ada yang menang alias semua kalah. Apalagi jika pihak-pihak yang berkonflik putus asa dan lantas menerapkan politik bumi hangus.

1.   Bagaimanakah kerukunan yang dimaksudkan Alkitab?
Kerukunan dengan saudara adalah dampak kerukunan dengan Tuhan. Alkitab menyatakan bahwa pendamaian kita dengan Allah-lah yang memberi kita kesempatan berdamai dengan sesama.

a.   Rasul Paulus mengatakan kepada jemaat di Efesus: (Efesus 2:13-14).
2:13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.
2:14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,

b. Yesus mengatakan dengan nada sebaliknya: Allah menjadikan perdamaian dengan sesama sebagai syarat untuk mendekati Dia. MATIUS 5:24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Intinya adalah: Kerukunan dengan saudara tidak bisa dipisahkan dari kerukunan dengan Allah.

Sebaliknya Yesus juga mengatakan: Matius 5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.  

Dan Rasul Paulus mengatakan: Roma 12:8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

Artinya: dalam memperjuangkan segala yang baik dan benar sekali pun kita tetap harus dalam kerangka perdamaian. Bahasa sederhana: kebenaran tidak bisa diwujudkan dengan kebencian dan dendam!

2.   Beberapa Perspektif  Yang Berdampak Pada Kerukunan
a.   Kerukunan adalah dampak hukum yang berkeadilan.
Amsal 29:18, Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.

Adil = sama berat; tidak berat sebelah; tidak memihak suatu perbuatan, dan atau perlakuan,
Amsal 20:23 Dua macam batu timbangan adalah kekejian bagi TUHAN, dan neraca serong itu tidak baik.
Pepatah terkenal mengatakan: no justice no peace. Tak ada keadilan maka tak ada juga damai. Hal itu dengan mudah kita saksikan dalam kehidupan keluarga. Jika orang tua bersikap tidak adil maka anak-anak akan bertengkar sesamanya.
Jika pemerintah bersikap tidak adil maka kelompok-kelompok dalam masyarakat akan saling membenci satu sama lain. Sebab itu untuk mewujudkan kerukunan atau harmoni sejati dalam masyarakat kita maka kita harus sungguh-sungguh menegakkan hukum dan keadilan.
Tak ada satu orang pun termasuk pemimpin yang boleh bertindak sekehendak hatinya dan menempatkan dirinya lebih tinggi kedudukannya daripada hukum. Sumber-sumber kehidupan harus didistribusikan secara merata. Setiap orang harus dijamin mendapatkan apa yang menjadi haknya dan kebutuhannya serta imbalan atas kerja keras serta prestasinya.

b.   Kerukunan adalah buah saling penerimaan.
Amsal 10:12, Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.
Pada akhirnya kita diingatkan bahwa kerukunan atau harmoni dalam kehidupan tidak pernah terjadi dengan sendirinya atau otomatis melainkan harus diusahakan secara sengaja dan serius.
Yaitu dengan sikap saling menerima dan saling menghormati dalam keunikan dan kepribadian masing-masing. Bagaimana kita bisa saling menerima walaupun berbeda-beda?
Jawabnya: memiliki visi dan tujuan yang sama yaitu kemuliaan Allah, dan pengalaman bersama dengan Allah. Dan memiliki musuh bersama: dosa, kehancuran dan kematian.

3.   Kewajiban Orang Kristen (Roma 12:9-21)
Nasehat Untuk Hidup Dalam Kasih
12:9 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.
12:10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.
12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!
12:13 Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!
12:14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!
12:15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!
12:16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!
12:17 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!
12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!
12:19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.
12:20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.
12:21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Dalam surat Roma pasal 1-11 Paulus banyak sekali membicarakan masalah-masalah dogmatika, dalam pasal 12 Paulus mengajak jemaat di Roma untuk mempraktekan ajaran-ajaran yang sudah didapat.
Paulus memberikan perintah-perintah yang bersifat dengan ajakan dengan harapan bahwa mereka mulai mencoba untuk hidup bersama dengan orang-orang lain dengan menerapkan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan.
Sepintas keadaan di kota Roma memang sepertinya tidak mendukung keberadaan orang-orang percaya Tuhan yesus, bahkan ada indikasi bahwa banyak orang kristen yang diperlakukan dengan tidak baik dan tidak adil (ay 12-15, 17-21). Dalam keadaan  yang sulit bagi orang kristen ini maka paulus menasehati, supaya mereka bertahan dalam iman yang benar dan mereka justru harus tetap mempraktekan kasih itu. Karena bagi Paulus kasih itu bukan sekedar perkataan saja, namun  tindakan kasih itu jauh lebih penting.

Ada dua hal yang diperjuangkan Paulus dalam pasal 12:9-21,
  1. Berkenaan dengan kehidupan bersama didalam jemaat: Paulus mengharapkan jemaat saling mengasihi, memberi hormat, membantu orang lain yang kekurangan, memberikan tumpangan, sehati sepikir, bertekun dalam doa dan tetap melayani Tuhan.
  1. Berkenaan dengan hidup dengan masyarakat atau orang luar: Paulus menasehatkan untuk bersabar dalam kesesakan, minta berkat untuk oprang-orang yang menganiaya, tidak membalas kejahatan, mengasihi seterunya dengan tindakan nyata.

Paulus melihat bahwa akan ada orang-orang yang tidak suka dengan orang kristen, bagi Paulus :
a.  Yang pertama harus dilakukan orang percaya adalah hidupnya berkenan dulu kepada Tuhan, biarkan Tuhan terlebih dahulu mengubah hidupnya,
b.  Kemudian Paulus mengharapkan agar cara hidup orang kristen menjadi berkat bagi orang lain, dengan cara jangan membalas kejahatan mereka dengan melakukan kejahatan pula. Paulus mendorong jemaatnya untuk melawan kejahatan mereka dengan cara yang berbeda yaitu melakukan kebaikan bagi mereka.

Paulus menginginkan bahwa setiap orang percaya mempunyai inisiatif aktif untuk terwujudnya perdamaian, apalagi kalau hal itu bergantung pada kita sebagai orang kristen. Maka melakukan hal yang baik bagi semua orang merupakan ciri hidup bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus.

Membicarakan kasih itu hal yang biasa, namun melakukan perbuatan kasih itu hal yang luar biasa._ (brother dave)_