Rabu, 22 Februari 2012

PESAN YANG MEREMEHKAN

Salah satu tugas orang tua adalah memampukan anak-anaknya untuk menilai diri mereka sendiri, seperti halnya Tuhan menilai mereka. Sarana utama untuk mencapainya adalah melalui pesan yang membangun, baik dengan perkataan, sikap, maupun perbuatan. Jika Anda mengisi kehidupan mereka dengan pesan-pesan yang positif tentang arti hidup mereka bagi Anda dan bagi Tuhan, mereka akan mengembangkan disiplin dan harga diri, dan menjadi orang dewasa yang mandiri serta bertanggung jawab. Sayangnya, ada orang tua yang menyampaikan pesan yang tidak membangun kepada anak-anak mereka, sehingga memengaruhi cara anak menilai diri sendiri secara negatif dan menganggap seperti itulah Tuhan menilai. Pesan seperti ini adalah pesan yang merusak.

Pesan yang Meremehkan Tidak Dapat Ditoleransi

Pesan meremehkan yang ditujukan kepada seseorang, bisa mengurangi nilai sebenarnya dari orang tersebut. Apabila Anda menyampaikan perkataan yang meremehkan kepada anak-anak Anda, Anda tidak membangun harga diri mereka. Apa yang Anda sampaikan, dapat mengakibatkan mereka meragukan arti hidupnya bagi Anda dan bagi Tuhan.

Pada dasarnya, pesan yang meremehkan merupakan bentuk penyangkalan terhadap salah satu atau lebih dari hal-hal berikut:

1. Pesan yang meremehkan biasanya menyangkali keberadaan anak atau menyangkali sesuatu yang dia nilai atau takuti. Apabila Anda mengacuhkan anak Anda, itu berarti Anda menyampaikan pesan yang menyangkali keberadaannya. Apabila anak Anda mengatakan bahwa dia takut sendirian berada di kamar tidurnya yang gelap pada malam hari, dan Anda berkata, "Tidak ada yang perlu ditakuti", artinya Anda menyangkali adanya masalah yang sangat nyata baginya.

2. Pesan yang meremehkan menyangkali beratnya suatu masalah atau pentingnya suatu peristiwa dalam kehidupan seorang anak. Misalnya, anak laki-laki Anda tertekan dalam menyelesaikan tugas ilmiah dari sekolahnya, kemudian Anda berkata, "Itu bukan masalah yang besar", maka Anda menyangkali beratnya masalah dan pentingnya tugas yang dia hadapi.

3. Pesan yang meremehkan menyangkali bahwa masalah yang dihadapi anak dapat diselesaikan. Anda meremehkan anak Anda ketika Anda membuat pernyataan, "Lupakan saja, Johny, engkau tidak dapat berbuat apa-apa."

4. Pesan yang meremehkan menyangkali kemampuan anak untuk berhasil dalam bidang tertentu. Misalnya, Anda berkata kepada anak Anda, "Engkau tidak akan terpilih menjadi anggota tim sepak bola."

Ketika Anda menyangkal anak Anda dalam salah satu di antara keempat hal di atas, itu berarti Anda menyampaikan pesan yang meremehkan, yang menghambat perkembangan anak Anda untuk dapat menjadi dewasa dan mandiri.

Pesan yang Meremehkan Selama Waktu Krisis

Orang tua sering merasa bersalah karena menyampaikan pesan yang meremehkan pada waktu anak menghadapi krisis dalam kehidupannya. Salah satu hadiah yang sangat berharga yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita adalah kemampuan untuk dapat menghadapi kehilangan. Kesedihan adalah bagian dari kehidupan. Tetapi, sering kali pengalaman krisis seorang anak lebih ringan dibandingkan krisis orang dewasa. Jadi, kita cenderung untuk menyampaikan pesan yang menyangkalinya, dan bukannya pesan yang membangun anak untuk menjalani pengalaman itu. Dengan demikian, kita meremehkan anak dan menghambat pertumbuhannya.

Saat anjing anak Anda mati, jangan berkata kepadanya, "Itu hanya seekor anjing dan ada banyak anjing yang seperti itu. Minggu depan kita akan membeli seekor anjing yang lebih baik." Selama waktu krisisnya, anak Anda sangat memerlukan dukungan dari Anda untuk dapat memahami kesedihannya, keseriusan masalah yang dihadapinya, dan menegaskan kemampuannya untuk mengatasinya. Anda seharusnya berkata, "Saya tahu bahwa engkau sedih karena anjing itu sangat berarti bagimu. Saya dapat melihat kesedihan itu di matamu. Saya juga sedih. Kita berdua akan merasa kehilangan." Pesan ini adalah pesan yang membangun.

Meremehkan dan Menertawakan

Cara lain yang dilakukan orang tua di dalam menyampaikan pesan yang meremehkan kepada anak-anak adalah dengan menertawakan. Tertawa dengan seorang anak adalah sehat. Tetapi menertawakan kepedihan, kegagalan, atau sesuatu yang memalukan anak Anda, berarti meremehkan dia. Ini adalah bentuk perlakuan kasar melalui perkataan. Dalam keluarga sering kali terjadi hal-hal yang lucu. Tetapi jika sumbernya adalah kemalangan anak Anda, maka Anda harus menunggu sampai anak Anda tertawa, meskipun untuk itu Anda harus menahan tawa atau meninggalkan ruangan untuk mengendalikan diri Anda.

Berbagai Bentuk Pesan yang Meremehkan

Ada banyak bentuk pesan yang meremehkan. Celakanya, setiap pesan yang meremehkan tersebut bisa membutakan anak dari kebenaran tentang arti hidupnya bagi Tuhan, dan menghalangi perkembangan harga dirinya. Beberapa bentuk pesan yang meremehkan adalah sebagai berikut:

a. Penganiayaan. Penganiayaan bisa dilakukan secara fisik, emosi, seksual, dan perkataan. Banyak orang tua, tanpa sadar telah menganiaya anak-anaknya melalui perkataan. Penganiayaan melalui perkataan sama-sama meremehkan, seperti halnya bentuk penganiayaan fisik.

b. Mengabaikan. Tidak memberikan perhatian secara fisik, emosi, atau dengan perkataan adalah suatu bentuk penganiayaan secara pasif. Pengabaian menyebabkan anak merasa disisihkan.

c. Kasih yang bersyarat. Pesan dari kasih yang bersyarat merupakan ancaman secara tidak langsung dan juga terang-terangan, berdasarkan kebutuhan atau harapan yang dimiliki orang tua dan bukan berdasarkan kebutuhan anak.

d. Memanjakan. Tindakan orang tua yang memanjakan adalah bentuk kasih yang berlebihan, dan bisa menjadi kebiasaan buruk bagi anak. Memanjakan anak sama dengan meremehkan, karena menyebabkan anak bergantung pada orang tuanya dan menghambat kemampuannya untuk berpikir bagi dirinya. Memanjakan anak juga berarti mengaburkan arti tanggung jawabnya secara pribadi.

Mengorbankan Anak dengan Pesan yang Meremehkan

Kita banyak mendengar tentang pengorbanan. Anak-anak yang tumbuh dengan menerima pesan yang meremehkan akan menderita, karena mereka terbiasa menjadi korban kesalahan. Mereka belajar untuk mengatasi pesan yang mengecam, menyisihkan, meremehkan, yang mereka terima dengan menyalahkan diri sendiri. Sebelum menginjak masa remaja dan dewasa, mereka mungkin bebas dari pesan orang tua mereka yang meremehkan. Tetapi, pada saat itu, mereka sudah terbiasa mengendalikan diri sendiri. Mereka membuat pernyataan yang mengecam, menyangkal, dan menyalahkan diri sendiri.

Terkadang tanpa sadar, orang tua perlahan-lahan telah menyebabkan anak-anak menjadi korban kesalahan, melalui pesan yang meremehkan yang mereka sampaikan. Kita tidak dapat menduga betapa kuatnya pengaruh perkataan, nada suara, dan perbuatan kita kepada anak-anak kita.

Seorang anak yang bertumbuh dengan pesan-pesan negatif, akan terbiasa menyalahkan dirinya atas keadaan-keadaan yang sebenarnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Dia tidak akan menjadi orang yang dewasa, mandiri, percaya diri. Sebaliknya, kehidupannya akan ditandai dengan kebiasaan menyalahkan diri sendiri, menghukum diri sendiri, gelisah, dan merasa menjadi korban.

Memutuskan Siklus yang Meremehkan

Jika Anda terbiasa menyampaikan pesan yang meremehkan kepada anak-anak Anda, kemungkinan besar Anda menerima pesan itu dari orang tua Anda ketika Anda masih anak-anak. Sampai batas tertentu, Anda terbiasa menjadi korban kesalahan dan mengambil sikap meremehkan diri sendiri. Karena sikap yang meremehkan berlaku pada orang tua Anda, dan sekarang berlaku pada Anda, Anda sekarang menyampaikannya kepada anak-anak Anda yang terbiasa menjadi korban seperti Anda. Meremehkan dalam keluarga adalah siklus yang merugikan. Untuk menghentikan aliran pesan yang meremehkan dari Anda kepada anak-anak Anda, Anda harus memutuskan siklus itu dengan mengatasi sikap Anda yang meremehkan.

Langkah pertama untuk memutuskan siklus ini adalah dengan mengenali pola pikir Anda yang meremehkan. Kecenderungan meremehkan sering kali begitu berakar, sehingga kecenderungan ini merupakan suatu tanggapan yang spontan. Membawanya ke permukaan akan menuntut Anda untuk bekerja dan berusaha, tetapi hasilnya setara dengan usaha Anda. Sadarilah bahwa Anda melakukannya bukan untuk memperbesar rasa bersalah atau bersikap terlalu keras pada diri sendiri. Anda hanya sedang berusaha untuk mengenali seberapa jauhkah kelakuan Anda didorong oleh kelakuan yang meremehkan.

Salah satu cara untuk menentukan apakah meremehkan merupakan bagian dari kehidupan Anda adalah dengan menelusuri tanggapan Anda atas masalah-masalah. Bertanyalah pada diri Anda sendiri: Apakah saya mengabaikan masalah yang benar-benar ada? Apakah saya beranggapan bahwa tidak ada penyelesaian untuk masalah itu? dll..

Kabar baiknya adalah Anda bisa berubah. Anda dapat memutuskan siklus meremehkan yang ada di dalam keluarga Anda. Anda harus menyelidiki sikap dan tanggapan Anda. Setelah Anda mengenali polanya, Anda bebas memilih cara pendekatan atau penyelesaian yang membangun. Apa yang Anda pelajari tentang diri Anda, akan membantu Anda mengubah tanggapan Anda yang meremehkan terhadap anak-anak Anda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar